
Bogor, 24 Mei 2026 – Ikatan Guru Tunanetra Inklusif (IGTI) secara resmi mengukuhkan jajaran Dewan Pengurus, Dewan Pengawas, dan Dewan Kehormatan untuk masa bakti 2026–2030. Diselenggarakan secara virtual, forum Musyawarah Kerja ini melahirkan cetak biru strategis guna mengawal hak pendidikan dan kepegawaian guru disabilitas di satuan pendidikan umum di seluruh Indonesia.
Berangkat dari sebuah wadah komunikasi sederhana, IGTI kini telah menjelma menjadi organisasi profesi yang sah dan diakui secara legal oleh Kemenkumham. Momentum pelantikan yang berakar dari Musyawarah Perwakilan pada April 2026 ini membuktikan bahwa pergerakan guru tunanetra di satuan pendidikan umum tidak pernah surut.
Selama ini, sistem pendidikan nasional cenderung mengarahkan pendidik penyandang disabilitas untuk bernaung di bawah Sekolah Luar Biasa (SLB). Kehadiran IGTI hadir untuk mendobrak batasan tersebut, memastikan bahwa guru tunanetra memiliki kompetensi, hak, dan martabat yang setara untuk mentransfer ilmu di sekolah umum.
“Perjuangan untuk tercapainya inklusivitas di lingkungan pendidikan bukanlah hal yang mudah. Kita harus mampu mendorong kesadaran semua pihak. Namun, masih sangat banyak masyarakat yang menstigma bahwa inklusivitas hanyalah milik kelompok disabilitas. Ini tantangan bagi kita,” ujar Ketua Dewan Pengurus IGTI, Rafik Akbar, S.Pd.I., M.M.
<
Rapat kerja ini menjadi panggung pemaparan gagasan taktis dari empat departemen utama IGTI. Setiap departemen merumuskan langkah konkret yang bertumpu pada asas kolaborasi dan pemenuhan kebutuhan nyata di lapangan.
1. Kesekretariatan & Kebendaharaan
Fokus utama pengurus inti adalah penguatan tata kelola internal. Kesekretariatan menargetkan manajemen database terpadu untuk tiga kategori keanggotaan: Anggota Mandiri (guru tunanetra di sekolah inklusi), Anggota Mitra (akademisi/pakar), dan Anggota Pra-mandiri (mahasiswa kependidikan). Di sisi keuangan, bendahara memprioritaskan transparansi arus kas dan strategi fundraising yang selaras dengan landasan hukum.
2. Departemen Edukasi Inklusif
Bertujuan membangun fondasi literasi masyarakat melalui kampanye digital “Melihat dengan Hati”. Target utamanya meliputi produksi 50 konten standar inklusi, penyusunan buku saku (pocket book) panduan sekolah inklusi, serta terjun langsung melakukan pendampingan (roadshow Inclusive Goes to School) ke minimal 40 sekolah reguler untuk mengikis stigma di lapangan.
3. Departemen Advokasi & Aspirasi
Memprioritaskan sensus nasional untuk memetakan jumlah riil pendidik penyandang disabilitas. Basis data ini sangat krusial sebagai alat advokasi untuk mengawal amanat undang-undang terkait realisasi kuota 2% di instansi pemerintah. Departemen ini juga akan menyiapkan layanan pengaduan dan pendampingan bantuan hukum online bagi anggota yang mengalami diskriminasi.
4. Departemen Kemitraan Strategis
Bertindak sebagai “jembatan emas” eksternal, departemen ini menargetkan pemetaan dan audiensi intensif dengan kementerian terkait, seperti Kemendikdasmen, Kemenag, dan Kemenpan RB. Target jangka panjangnya adalah membangun forum jejaring kemitraan nasional untuk menguatkan akses pendanaan, fasilitas, dan posisi tawar guru tunanetra di mata pembuat kebijakan.
5. Departemen Pengembangan Kompetensi & Organisasi
Gebrakan terdekat di tahun 2026 adalah melakukan uji coba aksesibilitas sistem kepegawaian ASN dari BKN (MyASN). Pengujian ini menggunakan peranti screen reader (pembaca layar) guna mengidentifikasi hambatan administratif digital. Program jangka panjang mencakup pelatihan adaptasi digital dan pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) bagi pendidik tunanetra.
6. Optimalisasi Koordinator Wilayah (Korwil)
Menghidupkan peran 6 Koordinator Wilayah yang mencakup berbagai provinsi di Indonesia. Korwil diinstruksikan untuk segera menggelar Focus Group Discussion (FGD) di wilayahnya masing-masing. Mereka bertugas sebagai ujung tombak yang menjaring isu-isu lokal dari akar rumput dan menginisiasi kemitraan dengan pemerintah daerah setempat.
Dalam sesi penguatan organisasi, Ketua Dewan Pengawas, Ujang Kamaludin, memberikan pesan filosofis yang mendalam mengenai hakikat kerja kolektif. Beliau menekankan bahwa keberhasilan program-program di atas menuntut sinergi tanpa sekat ego sektoral.
“Organisasi ini seperti tubuh yang satu. Tidak mungkin telinga bisa bekerja sendiri, tidak mungkin hidung bisa bekerja sendiri, pasti saling keterkaitan. Kita ibaratkan juga sapu lidi. Satu lidi sangat sulit dipakai menyapu, tapi jika diikat menjadi ratusan menjadi satu kesatuan organisasi, bisa dipakai menyapu masalah seluas apapun tetap bisa bersih,” papar Ketua Dewan Pengawas IGTI, Ujang Kamaludin, M.Si.
Semangat integrasi ini juga ditajamkan oleh Ketua Dewan Kehormatan, Sugie Hermanto, yang secara khusus mengkritisi potensi tumpang tindih pangkalan data (database) antar departemen.
Beliau menegaskan, “Jangan sampai kita meniru negara ini, kementerian A punya data sendiri, kementerian B punya data sendiri. Harapan saya IGTI jangan seperti itu. Paling tidak, ketika divisi punya data, jadikan itu sebagai satu database utama IGTI. Sehingga siapapun ditanya tentang data, mereka bisa menjelaskan secara presisi.”
Selain itu, Dewan Kehormatan juga menginstruksikan agar seluruh dokumen fundamental organisasi, seperti AD/ART dan Akta Pendirian, diketik ulang dalam format yang sepenuhnya aksesibel bagi anggota tunanetra murni (blind) yang mengandalkan alat bantu pembaca layar.
<
Menyadari bahwa kelancaran roda organisasi membutuhkan bahan bakar operasional yang sehat, kesekretariatan dan kebendaharaan berkomitmen menjaga transparansi arus kas. Penggalangan dana akan dikelola selaras dengan hukum di Indonesia, dipadukan dengan kebijakan penyediaan “dana darurat”, serta audit internal guna menjaga kepercayaan seluruh anggota.
Rekaman Visual Acara
Transkrip Lengkap Acara
Telah disunting untuk kerapian tanpa mengubah substansi fakta.
Durasi: 3 jam 5 menit | Tanggal: 24 Mei 2026
Pembukaan
Pembicara: Sdri. Presti (Pembawa Acara / MC)
MC (Presti): “Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
(Hadirin terdengar menjawab: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh).
MC (Presti): “Yang terhormat Dewan Pengurus Ikatan Guru Tunanetra Inklusif. Yang kami hormati pula Ketua Dewan Pengawas Ikatan Guru Tunanetra Inklusif, dan juga Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Guru Tunanetra Inklusif, serta para pengurus koordinator wilayah dan seluruh anggota IGTI yang berbahagia.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washolatu wassalamu ‘ala asrofil anbiya wal mursalin, wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in, amma ba’du.
Pertama dan yang utama marilah senantiasa kita memanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa, yang mana pada kesempatan kali ini kita masih diberikan kesempatan, kesehatan, dan juga kenikmatan-kenikmatan yang lain, sehingga kita dapat melaksanakan pertemuan virtual ini dengan keadaan yang sehat tanpa kurang suatu apapun, amin.
Selawat beriring salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Allah Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang telah membimbing kita dari zaman jahiliah menuju zaman yang penuh dengan cahaya Islam seperti saat sekarang ini.
Untuk selanjutnya marilah kegiatan pelantikan pengurus, pemaparan program kerja, dan penguatan organisasi ini kita awali. Namun sebelum kita awali, izinkan saya membacakan susunan acara yang akan berjalan pada pagi hingga siang hari ini:
- Yang pertama, Pembukaan.
- Yang kedua, Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars IGTI.
- Yang ketiga, Sambutan-sambutan.
- Yang keempat, Pelantikan dewan pengurus dan pembacaan ikrar dewan pengurus.
- Yang kelima, Penguatan organisasi.
- Dan yang selanjutnya adalah Penutup.
Baik, untuk mempersingkat waktu, marilah acara ini kita buka dengan membaca kalimat basmalah bagi yang beragama Islam, dan membuka dengan membaca doa (bagi agama lain). Marilah kita buka dengan membaca kalimat basmalah bersama-sama… Bismillahirrahmanirrahim.
Acara selanjutnya yaitu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars IGTI. Kepada yang bertugas dipersilakan dan hadirin dipersilakan untuk mematikan suara pada Zoom masing-masing.”
(Menyanyikan Indonesia Raya dan Mars IGTI / Lagu diputar)
Sambutan Rafik Akbar (Ketua Dewan Pengurus)
MC (Presti): “Baik, demikian tadi menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan Mars IGTI. Acara selanjutnya yaitu sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama akan disampaikan oleh Ketua Dewan Pengurus Ikatan Guru Tunanetra Inklusif, yang pada kesempatan kali ini akan disampaikan oleh Saudara Rafik Akbar. Kepada beliau, waktu dan tempat dipersilakan.”
Rafik Akbar: “Terima kasih, Mbak Presti. Izin cek audio, apa bisa dengar dengan jelas?”
MC (Presti): “Iya, jelas.”
Rafik Akbar: “Oke. Baik, terima kasih. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.
Alhamdulillah pada pagi menjelang siang hari ini, puji serta syukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang sudah menganugerahkan kita kesehatan sehingga pada pagi hari ini kita dapat berkumpul secara daring untuk mengikuti kegiatan pelantikan serta musyawarah kerja atau rapat kerja pengurus periode 2026 hingga 2030.
Selawat serta salam tak lupa kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Semoga kita semua mendapatkan syafaat dari beliau di yaumul akhir kelak. Amin ya Allah ya rabbal alamin.
Pada kesempatan kali ini, tidak akan banyak yang ingin saya sampaikan bahwasanya, saya bersyukur alhamdulillah Ikatan Guru Tunanetra Inklusif yang baru saja berdiri di tahun 2021, saat ini sudah melakukan roda organisasi yang sangat baik melalui musyawarah perwakilan yang terlaksana pada bulan April kemarin tahun 2026.
Ini membuktikan bahwa pergerakan IGTI tidak berhenti, tetapi terus berkembang dan insyaallah akan semakin maju.
Yang terhormat kepada Ketua Dewan Kehormatan IGTI, serta yang saya hormati juga Ketua Dewan Pengawas IGTI serta seluruh jajarannya, kami sangat berterima kasih atas kontribusi Dewan Kehormatan dan Dewan Pengawas yang selalu mendampingi, selalu membimbing organisasi ini sehingga saat ini organisasi ini bisa tetap terus melangkah lebih maju.
Saya juga berterima kasih kepada dewan pendiri, para pendiri Ikatan Guru Tunanetra Inklusif yang mana berkat para pendiri, inisiator dari IGTI, hadirnya organisasi ini menjadi pemersatu teman-teman tunanetra yang berprofesi sebagai guru dan bertugas di sekolah umum, atau yang disebut satuan pendidikan umum penyelenggara pendidikan inklusif.
IGTI memiliki visi yang sangat mulia, visi yang sangat besar yaitu terwujudnya inklusivitas di lingkungan pendidikan. Dengan visi besar ini, saya berharap ke depannya IGTI akan terus berkolaborasi baik secara internal maupun secara eksternal.
Khususnya secara internal kita akan terus menguatkan organisasi kita dengan tata kelola organisasi yang baik, dan secara eksternal IGTI harus mampu berkolaborasi dengan siapapun, dengan lembaga manapun, seperti salah satu bunyi misi IGTI yaitu membangun kemitraan dengan lembaga pemerintah ataupun non-pemerintah.
Karena perjuangan untuk tercapainya inklusivitas di lingkungan pendidikan bukanlah hal yang mudah. Kita harus mampu mendorong kesadaran semua pihak akan pentingnya inklusivitas di lingkungan pendidikan. Karena inklusivitas itu bagaikan satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita.
Namun, masih sangat banyak masyarakat yang masih menstigma bahwa inklusivitas hanyalah milik kelompok disabilitas. Dan ini tantangan bagi kita.
Ini adalah perjuangan bagi kita bagaimana caranya kita bisa melawan diskriminasi melalui berbagai narasi-narasi yang bisa kita bangun melalui IGTI, melawan stigma negatif yang bisa kita perjuangkan melalui berbagai cara untuk terus kita berkolaborasi agar terwujudnya inklusivitas di lingkungan pendidikan.
Setelah ini pada hari ini, insyaallah kita akan sama-sama menyatukan persepsi, kita akan sama-sama menyatukan visi misi kita untuk terus berkolaborasi setidaknya 4 tahun ke depan selama periode kepengurusan ini berjalan.
Tanpa teman-teman, saya sebagai ketua tidak ada kemampuan apapun, karena kekuatan kita adalah berkolaborasi dan menguatkan partisipasi semesta untuk terwujudnya inklusivitas di lingkungan pendidikan.
Mungkin itu yang dapat saya sampaikan. Semoga kita semua selalu mendapatkan bimbingan dari Allah Subhanahu wa taala, Tuhan Yang Maha Kuasa, selalu mendapat kemudahan dan kelancaran untuk mewujudkan visi besar kita yaitu terwujudnya inklusivitas di lingkungan pendidikan.
Sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf. Wabillahi taufik wal hidayah, wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.”
Sambutan Ujang Kamaludin (Ketua Dewan Pengawas)
MC (Presti): “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih diucapkan kepada Saudara Rafik Akbar yang telah memberikan sambutannya. Sambutan yang selanjutnya akan disampaikan oleh Ketua Dewan Pengawas IGTI, yang pada kesempatan kali ini akan disampaikan oleh beliau Bapak Ujang Kamaludin. Kepadanya waktu dan tempat dihaturkan.”
Ujang Kamaludin: “Cek suara, ada? Cek, ada? Bisa masuk?”
(Terdengar sahutan peserta: Iya, bisa. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh).
Ujang Kamaludin: “Bismillah. Alhamdulillah washalatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa ashabihi wamawwalah. Amma ba’du.
Yang saya hormati Ketua Dewan Kehormatan dan juga Dewan Pendiri yang hadir. Yang terhormat juga Ketua Dewan Pengurus dan jajarannya. Yang saya hormati juga para wakil dan anggota dewan pengawas yang hari ini insyaallah sudah hadir semuanya.
Alhamdulillah, puji serta syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa taala yang telah membimbing kita semua untuk menjalankan segala aktivitas ini demi kemaslahatan umat sampai akhir hayat nanti. Semoga dengan rasa syukur, Allah akan senantiasa menambah nikmat kepada kita semua.
Selawat serta salam semoga tercurah pada baginda Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang menjadi teladan kita dalam menjalani kehidupan, baik dari segi ibadah maupun muamalah, sehingga semua apa yang kita lakukan menjadi bagian dari amal saleh dan salehah kita semuanya.
Bapak Ibu yang saya hormati. Saya selaku dewan pengawas, pertama mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini, karena kegiatan pelantikan merupakan momentum yang sangat sakral ya, untuk menanamkan komitmen bersama dalam menjalankan visi misi serta program kerja organisasi yang sudah disepakati bersama. Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih.
Dewan Pengawas dan Kehormatan kan kemarin sudah dilantik ya di pemilihan Musyawarah Perwakilan. Nah sekarang kita akan menyaksikan pelantikan struktur kepengurusan ini. Oleh karena itu mari kita ikuti kegiatannya dengan sebaik-baiknya.
Kemudian yang kedua juga, saya harap nanti dalam pelaksanaan raker ini bisa betul menghasilkan program kerja yang benar-benar bisa diaplikasikan oleh organisasi kita.
Dan tentu kalau masa COVID kita lebih mengutamakan daring. Tapi kalau sekarang ini ya kita harus ada keseimbangan antara daring dan luring. Sebab sebagaimana kita rasakan bahwa pengalaman daring ini ya enak dan tidak enak. Enaknya ya karena simpel, bisa dilaksanakan di tempat mana pun.
Tapi tidak enaknya itu juga karena tidak bisa menghasilkan karakter yang maksimal gitu ya, komitmen yang maksimal. Sebagaimana siswa daring kita juga beda dengan siswa yang luring. Nah pengurus daring juga dengan pengurus luring tentu produknya akan berbeda.
Nah, oleh karena itu nanti melalui pelaksanaan program nanti diharapkan nanti ada keseimbangan antara daring dengan luring untuk menghasilkan, atau mengatasi berbagai hambatan dari setiap program yang kita laksanakan itu. Kalau daring hambatannya apa, kalau luring hambatannya apa, dan seterusnya kita selesaikan bersama.
Dan kami sebagai pengawas tentu juga di samping mengevaluasi program, tapi juga kami akan selalu membuka diri untuk bekerja sama dalam mensukseskan program-program tersebut.
Saya kira itu aja. Terima kasih. Cukup sekian dari dewan pengawas saya sampaikan, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhirul kalam, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Sambutan Sugie Hermanto (Ketua Dewan Kehormatan)
MC (Presti): “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih kami haturkan kepada Bapak Ujang Kamaluddin selaku Ketua Dewan Pengawas Ikatan Guru Tunanetra Inklusif. Sambutan selanjutnya akan disampaikan oleh beliau Ketua Dewan Kehormatan. Kepada Bapak Sugie Hermanto waktu dan tempat dipersilakan.”
Sugie Hermanto: “Terima kasih. Suara saya jelas, teman-teman?”
(Terdengar sahutan peserta: Jelas… Aman…)
Sugie Hermanto: “Baik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang saya hormati Ketua Dewan Pengurus beserta jajaran dan juga Ketua Dewan Pengawas serta jajarannya.
Yang pertama, alhamdulillah kita bisa berkumpul di tempat ini dan selawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
Yang pertama saya ingin mengucapkan selamat Mas Rafik dan Mas Ujang sudah menetapkan jajarannya setelah sebelumnya pelantikan di Moper (Musyawarah Perwakilan). Dan memang tantangan kita saat ini adalah bagaimana kita mempertahankan IGTI.
Jika sebelumnya tantangannya adalah bagaimana mengakomodir guru-guru dengan hambatan penglihatan yang di sekolah inklusi. Gimana tantangannya? Karena selama ini kan guru yang mengalami hambatan penglihatan itu ngajarnya di SLB gitu.
Tapi ternyata banyak guru dengan hambatan penglihatan yang mengajar di sekolah umum atau sekolah inklusi juga. Terus akhirnya teman-teman para pendiri telah berhasil menghimpun sampailah terjadi IGTI.
Nah harapannya IGTI ini tidak hanya lahir tapi bisa dipertahankan sampai nanti. Dan ini adalah tantangan. Dan memang saya berkali-kali ngomong, ini suatu keajaiban ya, dari grup WA bisa jadi grup yang legal di Kemenkumham dan bisa kerja sama dengan Kemendikdas.
Itu merupakan suatu keajaiban dan ya anugerah besar bagi kita. Karena dengan adanya legalitas, dengan adanya kita dikenal di kementerian, itu mempermudah kita untuk bisa memberikan masukan dan terbukti kita beberapa kali sudah dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh kementerian, yang pernah di Surabaya dan juga di Jakarta ya kalau waktu itu, kalau enggak salah.
Nah mudah-mudahan ini bisa ditingkatkan. Mudah-mudahan kita enggak hanya dikenal di Kemendikdasmen, tapi juga kita dikenal di daerah kita masing-masing. Kita juga dikenal di kementerian-kementerian yang lain.
Karena sebenarnya kita bisa banyak bermitra dengan pemerintah. Enggak hanya Kementerian Pendidikan, mungkin Kemenpan RB, Kemenag, bahkan mungkin Kementerian Dalam Negeri dalam hal pendataan kependudukan disabilitas itu kan kita bisa masuk dan lain sebagainya. Itu sih.
Mengenai kinerja, memang kami dari Dewan Kehormatan hanya sekedar istilahnya menjaga gawang, menjaga ruh, agar bagaimana kedua dewan yang lain itu tidak keluar dari rel yang telah disepakati sesuai dengan AD/ART yang telah kita bentuk.
Saya sebagai Ketua Dewan Kehormatan, tidak akan terlalu banyak intervensi ke dewan pengurus dan dewan pengawas selama itu tidak keluar dari rel. Selama IGTI masih pada relnya, kami dari Dewan Kehormatan akan mengobservasi aja. Kami hanya mendampingi ya kalau dibutuhkan.
Dan saya harap kerja-kerja kita ini tidak hanya dilakukan oleh sekian orang, tapi juga dilakukan oleh semua orang. Dan kita anggap bahwa ini lembaga kita, ini rumah kita, dan ini adalah kesempatan bagi kita untuk bisa mengadvokasi hak-hak kita.
Karena ya saya sadar bahwa mungkin teman-teman juga terlibat di berbagai organisasi gitu. Namun tiap organisasi itu kan punya kekhasan, punya perjuangan rel perjuangan masing-masing.
Namun biar bagaimanapun kita itu guru. Kita itu guru. Rezeki kita itu jadi guru. Rezeki kita jadi guru dan kita juga mengalami banyak hambatan dari pekerjaan-pekerjaan kita itu, masih ada hambatan-hambatan yang dalam hal aksesibilitas, dalam hal sistem dan lain sebagainya.
Mari kita sama-sama berjuang untuk kita sama-sama bagaimana membuat pekerjaan guru bagi disabilitas, khususnya bagi tunanetra, itu jadi lebih aksesibel, lebih aware, lebih ada kepedulian.
Dan IGTI… saya kira IGTI merupakan suatu momentum untuk kita bisa berjuang, kita bisa bergerak. Saya kira akan berbeda ketika yang ngomong itu Mas Rafik sebagai guru, atau Mas Rafik sebagai individu, dengan Mas Rafik sebagai ketua IGTI.
Beda ketika Anda sebagai PNS, Anda menuntut ini itu, pasti pimpinan Anda akan menganggap bahwa karena Anda tidak ingin bekerja keras gitu. Tapi beda kalau yang ngomong itu masyarakat, IGTI itu sebagai masyarakat, itu pasti akan lebih apa ya, lebih didengar, lebih nendang kalau istilahnya anak-anak zaman now.
Pasti akan lebih nendang ketika yang ngomong masyarakat. Ketika nek sing ngomong PNS… menuntut tentang haknya sebagai PNS, orang enggak akan wow. Pimpinan enggak akan begitu saja memperhatikan. Tapi ketika yang ngomong adalah masyarakat, memperjuangkan PNS, memperjuangkan hak-hak orang lain, itu akan jadi momentum besar.
Dan ini adalah ladang-ladang amal buat kita. Mudah-mudahan ladang amal buat kita untuk bisa berbuat, mengusahakan agar ya adik-adik kita yang akan jadi guru jadi lebih baik.
Saya kira itu aja. Terima kasih atas kesempatannya. Saya akhiri, Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
(Terdengar sahutan peserta: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh).
Pembacaan Struktur Organisasi
MC (Presti): “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih diucapkan kepada Saudara Sugie Hermanto yang telah memberikan sambutannya. Acara selanjutnya yaitu acara yang kita tunggu-tunggu, yaitu pemaparan program kerja dari dewan pengurus.
Akan tetapi sebelum itu, sebelum kita mendengarkan pemaparan program kerja, maka akan dilaksanakan terlebih dahulu ikrar dari dewan pengurus. Untuk itu kepada ketua dipersilakan.”
Rafik Akbar: “Baik, terima kasih Mbak Presti. Sebelum pembacaan ikrar, saya ingin menyampaikan dulu sebagai sosialisasi struktur organisasi kepengurusan IGTI, Dewan Pengurus IGTI di tahun 2026 sampai 2030 sambil memastikan apakah semuanya sudah standby atau belum. Sudah?”
(Terdengar peserta menjawab kesiapan)
Rafik Akbar: “Baik. Pertama suara saya kalau sepertinya jelas enggak jelas?”
(Peserta menjawab: Jelas… Jelas ya…)
Rafik Akbar: “Oke, jelas. Pertama perlu saya sampaikan selain ketua, struktur dewan pengurus pada periode ini yang pertama yaitu Wakil Ketua IGTI yaitu Ahmad Syarif Sulaiman, S.Pd.I., M.Pd. Kemudian Sekretaris IGTI yaitu Wido Yufri Azhar, S.Pd.I.”
(Wido menyahut: Siap, hadir)
Rafik Akbar: “Yang berikutnya Bendahara IGTI yaitu Ade Rahmad Gumilar, S.Pd.”
(Ade menyahut: Hadir)
Rafik Akbar: “Nah itu pengurus inti. Kemudian dalam kepengurusan ini saya membentuk empat departemen. Yang pertama yaitu Departemen Edukasi Inklusif, diketuai departemennya oleh Bapak Tri Umaryadi, S.Sos.I.”
(Tri Umaryadi menyahut: Hadir, Mas)
Rafik Akbar: “Oke. Dan anggota dari Departemen Edukasi Inklusif, Muhammad Fadli Ismail.”
(Fadli menyahut: Ada, Mas)
Rafik Akbar: “Terima kasih. Kemudian departemen yang kedua yaitu Departemen Advokasi dan Aspirasi, diketuai departemen tersebut oleh Bapak Andri Rukmana, S.Pd.I., M.Pd.”
(Andri/Vidi menyahut: Hadir, Mas)
Rafik Akbar: “Oke, terima kasih. Dan ada dua orang anggota. Yang pertama Bapak Rahman Agus Pria, M.Pd.”
(Rahman menyahut: Hadir, Pak)
Rafik Akbar: “Oke. Yang anggota yang kedua yaitu Ibu Diah… oh Mbak, enggak boleh Ibu nih. Mbak Diah Wita, S.Pd.I., M.Pd.”
(Wita menyahut: Hadir, Mas)
Rafik Akbar: “Oke, terima kasih. Kemudian departemen yang ketiga yaitu Departemen Pengembangan Kompetensi dan Organisasi. Ketua departemennya adalah Ibu Salma Rahmasari, S.Pd.”
(Salma menyahut: Hadir. Terdengar keterangan bahwa beliau sedang dalam proses S2)
Rafik Akbar: “Mohon mudah-mudahan lancar. Kemudian anggota dari Departemen Pengembangan Kompetensi dan Organisasi yaitu pertama ada Ibu Tri Purwanti, S.Pd.”
(Terdengar konfirmasi kehadiran)
Rafik Akbar: “Ah ada ya, sedang ada ini ya. Yang berikutnya anggota Departemen Pengembangan Kompetensi dan Organisasi yaitu ada Mas Iusti Ngorahariandi, S.Pd.”
(Harisandi menyahut: Hadir, Mas)
Rafik Akbar: “Oke, terima kasih kehadirannya. Kemudian departemen yang keempat yaitu Departemen Kemitraan Strategis yang diketuai oleh Bapak Fajar Andrianto, S.Pd.I., M.Pd.”
(Fajar menyahut: Hadir, Mas)
Rafik Akbar: “Alhamdulillah. Dan anggotanya yaitu Bapak Heri Setiatna.”
(Heri menyahut: Hadir)
Rafik Akbar: “Alhamdulillah. Terima kasih Bapak sudah menghadiri. Dan kemudian masih menjadi bagian dari kepengurusan yaitu koordinator wilayah. IGTI memiliki enam koordinator wilayah.
Koordinator wilayah 1 mencakup wilayah DKI Jakarta dan Provinsi Banten, diketuai sekarang koordinatornya adalah Bapak Fadzlul Rahman, S.Pd., M.Pd.”
(Terdengar konfirmasi kehadiran Mas Alun)
Rafik Akbar: “Oh ada ya. Yang kedua korwil koordinator wilayah 2 yang mencakup Jawa Barat yaitu Bapak Yudhi Alhamdy Amras, S.Pd.I.”
(Yudhi menyahut: Hadir Kang Yudi…)
Rafik Akbar: “Oke. Yang ketiga corwil 3 yaitu mencakup daerah atau wilayah Jawa Tengah dan DIY yaitu ada Mas Trianto, S.Pd., M.Pd.”
(Trianto menyahut: Hadir, hadir Pak)
Rafik Akbar: “Hadir ya. Siap. Kemudian yang corwil 4 koordinator wilayah 4 itu mencakup daerah Jawa Timur, wilayah Jawa Timur yaitu koordinator wilayahnya adalah Ibu Fitria Rahmawati Utami, S.Pd.I.”
(Fitria menyahut: Hadir, Mas)
Rafik Akbar: “Alhamdulillah. Koordinator 5 mencakup wilayah Sulawesi dan Kalimantan yaitu Mas H. Ahmad Fuad Al Ahwani, S.Pd. Dan juga sedang on proses S2 karena hari ini ada kuliah katanya.”
(Fuad menyahut: Alhamdulillah hadir Mas, kaget saya tadi belum ada soalnya baru sempat gabung)
Rafik Akbar: “Alhamdulillah, semoga lancar kuliah S2-nya Mas Fuad.”
(Fuad menyahut: Insyaallah)
Rafik Akbar: “Dan Korwil 6. Nah Korwil 6 ini memang sudah konfirmasi tidak bisa hadir karena ada kendala perangkat. Korwil 6 itu meliputi wilayah Sumatera dan Aceh yaitu Mas Adriadi, S.Pd.I.
Seperti itu Dewan Kehormatan dan Dewan Pengawas, jajaran pengurusan dari mulai wakil ketua hingga para korwil yang insyaallah kita akan berkolaborasi selama 4 tahun ke depan. Mohon bimbingannya, arahannya selalu dari Dewan Kehormatan dan Dewan Pengawas. Serta ini juga menjadi sosialisasi untuk seluruh anggota IGTI dan seluruh mitra kerja IGTI di mana pun berada.”
Ikrar Dewan Pengurus
Rafik Akbar: “Selanjutnya teman-teman, saya akan membacakan ikrar pengurus yang nantinya saya akan membacakan terlebih dahulu beberapa kata yang setelah itu diikuti oleh semua pengurus. Untuk itu mohon untuk membuka miknya. Oke, bisa kita mulai teman-teman?”
(Terdengar jawaban serentak peserta: Siap… Siap…)
(Sdr. Rafik Akbar mulai membacakan ikrar yang kemudian diulang/diikuti oleh seluruh pengurus)
IKRAR DEWAN PENGURUS
Dengan mengharap rahmat dan rida dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagai anggota Dewan Pengurus berikrar bahwa:
- Bahwa saya setia pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
- Bahwa saya setia pada visi, misi, dan moto organisasi.
- Bahwa saya akan berkomitmen dalam membangun, mengembangkan, dan memperjuangkan profesi.
- Bahwa saya akan menaati anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dan peraturan lain demi terwujudnya tujuan organisasi.
Rafik Akbar: “Sekian ikrar pengurus. Terima kasih teman-teman sudah ikut membacakan. Silakan di-mute kembali mik-nya.
Demikian Dewan Kehormatan dan Dewan Pengawas, ikrar pengurus yang sudah dibacakan. Mudah-mudahan ini menjadi simbol kolaborasi kami untuk terus berkontribusi melalui IGTI dan mewujudkan atau terwujudnya inklusivitas di lingkungan pendidikan. Sekian dari saya, Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Pemaparan Program Kerja: Kesekretariatan & Keuangan
MC (Presti): “Mbak Presti apakah sudah monitor? Mohon maaf terlempar… Baik, untuk acara selanjutnya, terima kasih kepada Saudara Rafik Akbar yang telah memberikan sosialisasinya tentang kepengurusan dari 2026 sampai dengan 2030, dan juga telah memimpin ikrar pengurus pada kesempatan pagi hingga siang hari ini.
Untuk selanjutnya yaitu pemaparan program kerja dari dewan pengurus yang akan dipimpin kembali oleh Saudara Rafik Akbar. Kepadanya waktu dan tempat dipersilakan.”
Rafik Akbar: “Ya. Baik, terima kasih Mbak Presti. Baik, dalam rangka menyampaikan program kerja dewan pengurus periode 2026 sampai 2030, akan ada penyampaian proker dari beberapa pengurus.
Saya akan menyampaikan proker terkait kesekretariatan dan keuangan atau bendahara. Dan nanti setelah itu baru saya akan mempersilakan teman-teman di departemen akan menyampaikan prokernya masing-masing. Boleh nanti berkolaborasi dengan satu timnya atau diwakili oleh salah satu timnya.
Baik, untuk proker pengurus inti secara umum bisa kami sampaikan bahwa untuk kesekretariatan, berdasarkan tupoksi yang sudah kami susun, kesekretariatan akan berfokus pada manajemen database organisasi. Yang mana nantinya akan meliputi database organisasi secara internal, yaitu dari mulai keanggotaan.
Yang mana berdasarkan Anggaran Rumah Tangga kita memiliki tiga keanggotaan, yaitu ada Anggota Mandiri, ada Anggota Mitra, dan ada Anggota Pra-mandiri.
Anggota Mandiri, sedikit kami sampaikan, adalah teman-teman anggota yang berkriteria sebagai seorang guru dengan hambatan penglihatan yang ditugaskan di satuan pendidikan umum atau satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif, yang menjadi anggota utama bisa dikatakan seperti itu, yang disebut juga sebagai Anggota Mandiri.
Kemudian Anggota Mitra adalah teman-teman dari berbagai kalangan, tidak harus seorang guru dengan hambatan penglihatan, tetapi juga bisa berasal dari akademisi. Seperti Pak Heri yang hari ini juga hadir dan alhamdulillah akan berkolaborasi secara langsung dengan kami, dan juga banyak lagi para akademisi yang juga sudah menjadi Anggota Mitra kita.
Dan Anggota Pra-mandiri adalah teman-teman yang masih dalam studi atau status mahasiswa, baik itu sarjana ataupun magister, yang mana mengambil prodi pendidikan atau hal-hal yang terkait dengan dunia pendidikan.
Jadi, selain terkait manajemen database, kesekretariatan juga akan berfokus pada pengelolaan dokumentasi kegiatan serta data-data notulensi rapat-rapat dan juga kegiatan, dan hal-hal lain yang secara umum sudah biasa ditugaskan sebagai tupoksinya kesekretariatan.
Kemudian, secara umum dapat kami sampaikan juga terkait proker keuangan, yaitu tupoksi bendahara tidak jauh dari manajemen arus keuangan IGTI, baik itu pendanaan-pendanaan yang sifatnya dari internal seperti iuran anggota dan lain sebagainya, serta pendanaan-pendanaan yang berasal dari luar organisasi yang mana ditujukan untuk pengembangan organisasi kita.
Serta selain itu, tidak hanya terbatas dengan pengelolaan arus keuangan, tetapi juga bendahara akan melakukan berbagai penganggaran-penganggaran terkait kegiatan-kegiatan ke depannya, sekaligus juga mencari atau menangkap peluang untuk bisa menambah atau menstabilkan kondisi keuangan organisasi ke depannya.
Sehingga, bagaimanapun juga, salah satu bahan bakar terpenting dalam organisasi adalah keuangan. Oleh karena itu ke depannya akan banyak strategi-strategi untuk bisa meningkatkan kas organisasi, baik itu dengan strategi fundraising ataupun strategi-strategi lain yang tidak melanggar ketentuan AD/ART dan ketentuan hukum di Indonesia.
Secara umum seperti itu program kerja pengurus inti yang dapat saya sampaikan. Secara detail nanti akan kita kirim data program kerja secara rinci dan mudah-mudahan nanti bisa mendapat banyak saran, masukan, dan bimbingan dari semua pihak agar proker ini bisa terus menjadi landasan implementasi kegiatan yang maksimal.”
Departemen Edukasi Inklusif
Rafik Akbar: “Selanjutnya setelah pengurus inti menyampaikan program kerjanya, saya akan mempersilakan teman-teman dari Departemen Edukasi Inklusif terlebih dahulu untuk memaparkan secara umum program kerja yang sudah dirancang dan insyaallah akan diimplementasikan ke depannya. Kepada Ketua Departemen Edukasi Inklusif, saya persilakan Bapak Tri Umaryadi.”
Fadli Ismail: “Mungkin diwakili Mas. Tadi sudah diamanahkan untuk mewakili penyampaian pembacaan. Tapi sebelumnya mungkin sebelum pembacaan program kerja, ketua departemen ini bisa mungkin menyampaikan sedikit pembukaan. Silakan untuk Mas Tri.”
Rafik Akbar: “Mungkin pengantar sedikit dari ketua departemen nanti dilanjutkan oleh Mas Fadli ya. Silakan.”
Tri Umaryadi: “Baik, terima kasih Mas Rafik atas waktunya. Bismillahirrahmanirrahim, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi untuk semua. Yang terhormat Dewan Pengawas beserta jajarannya, juga Dewan Pembina beserta jajarannya, dan Dewan Pengurus beserta jajaran serta rekan-rekan pengurus departemen sekalian yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa taala.
Baiklah, di sini kami selaku Departemen Edukasi Inklusif akan sedikit memaparkan rancangan program kerja kami selama satu periode yaitu 4 tahun ke depan sesuai dengan tugas dan fungsi yang telah disusun oleh dewan pengurus yang kemudian dimandatkan kepada kami.
Nanti kami akan membagi dalam dua bidang program kami, yaitu tim program dan kegiatan, juga tim media serta publikasi. Jadi secara gambaran umumnya nanti ada dua bidang tersebut. Adapun secara lebih rincinya mungkin bisa kami persilakan untuk Mas Fadli selaku rekan kami di Departemen Edukasi Inklusif untuk memaparkan rancangan program departemen yang telah kami susun sementara. Silakan Mas Fadli.”
(Proses penyiapan presentasi layar / share screen)
Fadli Ismail: “Baik, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur senantiasa kita hadirkan ke hadirat Allah Subhanahu wa taala atas kesempatan yang diberikan pada hari ini. Selawat beserta salam tak lupa pula kita kirimkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang menjadi petunjuk tauladan bagi kita semua.
Baik, saya akan membacakan langsung saja ke bagian tugas pokok ya. Jadi tugas pokok seperti yang disampaikan tadi, secara umum itu ada meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat, pendidik, serta para pemangku kepentingan mengenai pentingnya pendidikan inklusif dan peran strategis guru tunanetra. Kemudian yang kedua, mendorong penerapan pendidikan inklusif di sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.
Dalam menjalankan tugasnya, departemen ini dibagi menjadi dua tim umum seperti yang disampaikan oleh Mas Tri tadi, yaitu: Yang pertama, Tim Media dan Publikasi, yaitu tim yang bertanggung jawab untuk memproduksi dan menyebarluaskan berbagai materi edukatif seperti brosur edukatif, video kampanye, infografis, konten digital yang lainnya. Tujuannya adalah memperluas literasi masyarakat tentang pendidikan edukasi serta inklusif di media yang dapat diakses.
Kemudian yang kedua, Tim Program dan Kegiatan. Tim ini berfokus pada implementasi kegiatan lapangan seperti seminar, workshop, kampanye edukasi, pelatihan, dan penguatan kapasitas. Dengan demikian, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berbasis informasi tapi juga pengalaman langsung dan kolaborasi nyata. Di sini mungkin kita juga akan berkolaborasi dengan departemen-departemen yang lain yang terkait untuk bagaimana memperkuat program-program IGTI ke depannya.
Kemudian visi strategis 4 tahun. Visi strategis Departemen Edukasi Inklusif yaitu: Membangun eksistensi pendidikan inklusif yang adaptif dan bermartabat bagi guru tunanetra. Visi menegaskan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berbicara mengenai akses pendidikan, tetapi juga penghormatan terhadap martabat, kompetensi, dan peran guru tunanetra dalam dunia pendidikan.
Kemudian program kerja strategis per tahun. Jadi kita membagi dalam 4 tahun insyaallah untuk programnya. Tetapi ini tidak menutup kemungkinan kita bisa mengatur yang mana bisa dijadikan program prioritas.
Tahun Pertama: Konsolidasi dan Literasi Dasar. Fokus utama tahun pertama adalah membangun fondasi organisasi dan memperkuat literasi publik mengenai pendidikan inklusif. Nah ini kita rasa penting karena untuk membangun program yang untuk periode ini akan masih awal, jadi kita perlu memperkuat dulu fondasinya, yaitu bekerja sama membangun kerja sama dengan berbagai lembaga-lembaga.
Program Tim Media dan Publikasi: Kampanye digital “Melihat dengan Hati”. Program ini berupa serial infografis bulanan di media sosial mengenai potensi guru tunanetra, konsep pendidikan inklusif, kesetaraan akses pendidikan. Kemudian newsletter kuartalan. Departemen akan menyebarkan informasi berkala terkait kebijakan pendidikan inklusif, perkembangan dunia pendidikan disabilitas, informasi strategis bagi stakeholder.
Program Tim Program dan Kegiatan: Antara lain seminar nasional dengan tema “Aksesibilitas Pendidikan: Guru Tunanetra sebagai Penggerak”. Seminar ini bertujuan membangun kesadaran publik secara lebih luas. Kemudian workshop internal berupa penguatan kapasitas anggota dalam public speaking, advokasi pendidikan, dan komunikasi edukatif.
Tahun Kedua. Fokus tahun kedua adalah menghasilkan media dan perangkat edukasi yang dapat digunakan secara langsung di sekolah. Program Tim Media Publikasi: Produksi video dokumenter pendek menampilkan kisah inspiratif guru tunanetra yang mengajar di sekolah reguler. Tujuannya adalah menghapus stigma diskriminatif, menunjukkan kompetensi guru tunanetra, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Serta menyusun buku saku (pocket book) tentang guru tunanetra, yaitu panduan praktis bagi sekolah umum tentang cara menyambut guru tunanetra, strategi pendidikan inklusif, serta adaptasi lingkungan sekolah.
Program Tim Program dan Kegiatan: Kegiatannya antara lain road show Inclusive Goes to School (sosialisasi langsung ke sekolah rujukan inklusi di berbagai daerah), webinar series teknologi adaptif, pelatihan penggunaan teknologi pendukung seperti screen reader, aplikasi aksesibel, teknologi bantu pembelajaran dan lain sebagainya.
Tahun Ketiga. Fokus utama tahun ketiga adalah membangun jaringan kemitraan dan memperluas dampak program. Nah ini beda dengan yang pertama. Kalau yang pertama itu masih diperkuat di bagian sosial media, kalau ini kita memang langsung terjun untuk menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga atau stakeholder yang terkait.
Program Media dan Publikasi: Portal edukasi online (pembuatan website yang memuat materi edukasi inklusif, modul pelatihan, sumber belajar gratis), podcast “Suara Inklusif” (diskusi rutin bersama akademisi, praktisi pendidikan, serta pemerhati pendidikan inklusif). Di sini pembuatan portal ini mungkin juga bisa nanti ke depannya kita bekerja sama dengan website IGTI yang sudah terbangun, tinggal kita membangun link khusus.
Program Tim Program dan Kegiatan: Ada sertifikasi pelatih inklusif, ini menurut kami juga cukup strategis karena ini bisa mengembangkan SDM yang ada di IGTI, yaitu membentuk tutor sebaya dari anggota organisasi agar mampu menjadi narasumber pendamping sekolah, konsultan pendidikan inklusif daerah. Serta Focus Group Discussion (FGD) melibatkan Dinas Pendidikan untuk mendorong kebijakan inklusif, penguatan kurikulum ramah disabilitas, dan strategi program pemerintah.
(Moderator memberikan interupsi pengingat waktu 1 menit tersisa)
Tahun Keempat: Evaluasi dan Keberlanjutan Dampak. Fokus tahun terakhir adalah evaluasi, penguatan dampak, dan keberlanjutan program organisasi. Program Media dan Publikasi: Penerbitan buku putih (white paper) dokumen hasil observasi selama 4 tahun tentang kondisi pendidikan inklusif, tantangan guru tunanetra, rekomendasi kebijakan nasional. Kemudian video kaleidoskop kegiatan program.
Program Tim Program dan Kegiatan: Yaitu Inclusion Award (pemberian penghargaan kepada sekolah inklusif terbaik, individu yang mendukung guru tunanetra, penggerak pendidikan inklusif), dan konferensi evaluasi nasional (forum bersama seluruh pengurus daerah untuk mengevaluasi program, menyusun rekomendasi, menyiapkan kepengurusan berikutnya).
Target Keberhasilan:
Bidang Literasi: Tersedianya lebih dari 50 konten edukasi standar baik berupa video maupun infografis.
Bidang Jangkauan Program: Minimal 40 sekolah umum lebih menerima sosialisasi langsung.
Bidang Kemitraan: Terjalinnya minimal 3 nota kesepakatan atau MOU dengan universitas atau lembaga pemerintah.
Produk Teknis: Tersedianya 1 buku panduan resmi mengenai program guru tunanetra di sekolah inklusif.
Demikian mungkin apa yang sempat kami sampaikan. Semoga bisa mendapatkan tanggapan dan masukan dari teman-teman. Saya kembalikan ke moderator.”
Departemen Advokasi dan Aspirasi
Rafik Akbar: “Selanjutnya kita dengarkan pemaparan program kerja yang berikutnya yaitu dari Departemen Advokasi dan Aspirasi. Ya mungkin karena memang programnya banyak dari masing-masing departemen, kita batasi maksimal 15 menit ya.
Nanti bisa dipersingkat saja karena waktu kita terbatas, apalagi teman-teman yang dari wilayah timur khawatir sudah semakin siang seperti itu. Jadi kita sampaikan poin-poin besarnya saja di dalam kesempatan kali ini, kecuali nanti ada yang perlu didalami oleh Dewan Kehormatan atau Dewan Pengawas dipersilakan. Untuk itu selanjutnya saya persilakan teman-teman dari Departemen Advokasi dan Aspirasi yang diketuai oleh Mas Vidi Rukmana, M.Pd. Saya persilakan.”
Vidi Rukmana: “Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, alhamdulillahilladzi wafa washalatu wassalamu ‘ala nabiyil musthofa wa ‘ala alihi ahli shidqi wal wafa… Salam sejahtera bagi kita semuanya, Bapak/Ibu pengurus terlantik periode 2026-2030 yang saat ini hadir di Zoom. Alhamdulillah, yang pertama tentunya ucapan syukur kita dapat berjumpa kembali kita dapat bersilaturahim di tempat ini.
15 menit yang diberikan kepada kami dari Departemen Advokasi dan Aspirasi ini akan saya manfaatkan dengan semaksimal mungkin. Oleh karenanya mohon maaf, izin secara global saja program yang akan kami sampaikan ini. Untuk lebih detailnya tentunya sudah kami kirimkan ke pengurus inti dan mungkin sudah ditelaah secara baik-baik. Dan mengizinkan juga sahabat-sahabat kami yaitu Mbak Wita Soka dan juga Mas Pri.
Kemarin kita sempat ngobrol di grup, Mbak Wiwit ini menyempatkan waktunya karena beliau di hari ini juga sebetulnya ada kesibukan yang lain tapi alhamdulillah dapat hadir. Dan juga Mas Pri kemarin juga menyampaikan sinyal kadang-kadang tidak bagus di tempatnya. Dan saya pribadi juga alhamdulillah di hari ini dapat hadir karena baru saja mati listrik selama satu hari satu malam blackout di daerah Sumatera hampir semuanya ya, tapi alhamdulillah di pagi hari tadi sudah menyala kembali.
Baik Bapak Ibu sekalian. Yang pertama, tujuan daripada kegiatan atau program yang kami buat ini adalah: Menyediakan tempat aspirasi, kemudian membantu anggota memahami hak-haknya, dan memperjuangkan pendidikan yang lebih ramah terhadap disabilitas. Dalam konteks ini tentunya tidak hanya berbasis kepada murid, tapi seluruh civitas dari pendidikan itu sendiri. Pendidiknya harus inklusif dan lain sebagainya.
Ini penting karena kita sebagai guru tunanetra kadang-kadang disampaikan ‘apa bisa sebetulnya guru itu mengajar kepada anak-anak yang notabene mereka melihat?’ Ini sebuah pertanyaan yang sering muncul. Makanya pendidikan yang ramah atau pendidikan yang inklusif untuk semuanya ini penting kita munculkan. Padahal poinnya kan sebetulnya bagaimana murid ketika kita menyampaikan ilmu (transfer of knowledge, transfer of value), ketika murid sudah membuka hati, mereka pasti bisa menerima apa yang kita sampaikan.
Program Prioritas: Yang berikutnya, pada tahun pertama fokus kami di departemen kami adalah pendataan daripada guru-guru tunanetra di seluruh Indonesia. Nah ini penting, kalau kita banyak berbicara masalah inklusivitas disabilitas tapi kita tidak punya data seberapa banyak sebetulnya guru-guru disabilitas di Indonesia, ini kan jadi masalah.”
(Tiba-tiba audio Sdr. Vidi terputus karena gangguan jaringan. Sdr. Rafik Akbar dan tim mencoba memanggil.)
Rafik Akbar: “Mas Vidi suaranya hilang. Halo Mas Vidi? Suaranya tidak terdengar. Masih gabung ya sebenarnya? Ada gangguan jaringan mungkin ya.”
(Setelah beberapa saat, Sdr. Vidi kembali bergabung)
Vidi Rukmana: “Halo? Iya, mohon maaf terputus, ada yang telepon masuk. Oke, sampai mana tadi saya agak lupa? Oke sampai ke pendataan guru disabilitas ya. Ya, ini menjadi target orientasi daripada program tahun pertama kami.
Kemudian layanan aspirasi online ini juga menjadi target prioritas tahun pertama. Kemudian yang berikutnya adalah webinar hak-hak daripada guru disabilitas.
Kemudian ini program target atau prioritas tahun kedua dan ketiga, yaitu: Yang pertama advokasi kebijakan terkait hak dan kewajiban guru disabilitas. Kemudian bantuan hukum secara online. Nah ini kita nanti bisa bekerja sama atau bermitra dengan lembaga-lembaga strategis yang bisa menyediakan bantuan hukum secara online.
Kemudian kerja sama organisasi. Dan berikutnya pelatihan advokasi secara mandiri (self-advocacy). Maksudnya adalah melatih teman-teman untuk bisa mengadvokasi secara mandiri ketika menghadapi tantangan di tempat kerja, minimal mereka bisa mengadvokasi dirinya sendiri sebelum dibantu secara organisasi.
Prioritas tahun keempat ya ini mendorong sekolah untuk ramah untuk disabilitas. Ini hampir sama kayaknya dengan teman-teman dari departemen sebelumnya, mungkin nanti bisa kolaborasi. Dan ini menjadi sinergitas yang bagus menurut saya. Kemudian juga IGT Award sama seperti konsepnya teman-teman tadi, dan adanya Konferensi Nasional.
Kemudian kami memprogram adanya kegiatan rutin, yaitu: Diskusi bulanan untuk mendiskusikan isu-isu hangat, podcast motivasi, dan pelatihan teknologi bantu atau teknologi adaptif.
Berikutnya adalah media dan komunikasi. Kita berharap kita bisa menggunakan WhatsApp Bot yang bisa me-reply otomatis. Kemudian Instagram yang harusnya aksesibel, website inklusif, dan layanan pengaduan online. Layanan pengaduan online ini penting karena kasus diskriminasi itu masih sangat banyak terjadi di kalangan kita sendiri. Asal jangan ngadunya pada saat jam 12 malam waktu tidur.
Target daripada program kami: Lebih banyak guru tunanetra terdata di seluruh Indonesia. Pengaduan itu bisa cepat ditangani agar kasus tidak menjadi bola salju. Anggota dapat memahami hak dan kewajiban mereka yang melekat pada diri masing-masing. Serta dengan program tadi, akan muncul kebijakan yang lebih inklusif secara holistik, merata untuk semua kalangan.
Baik, seperti itu belum 15 menit ya Bapak Ibu. Kalau belum, kita persilakan teman-teman yang lain mungkin Mbak Wiwit dan juga Mas Pri ada tambahan mumpung waktunya belum 15 menit.”
Priana: “Iya, untuk Mas Vidi dan teman-teman, jadi pada intinya bahwa program-program yang kita susun itu kan beberapa sama ya dengan dari departemen yang lain. Nah ini nanti pada pelaksanaannya kita bisa bareng-bareng menyelenggarakan kegiatan ini, begitu. Dan ada hal yang memang kami sendiri membutuhkan dukungan dari teman-teman, harapan kami ini bisa kita laksanakan bersama-sama.”
Vidi Rukmana: “Ada yang lain dari Mbak Wiwit? Tidak ada ya. Baik kalau tidak ada, demikian presentasi dari departemen kami, Departemen Advokasi dan Aspirasi. Mudah-mudahan bisa dipahami dan menjadi sumbangsih kepada IGTI. Mohon maaf atas kekhilafan dan kesalahan, kesempurnaan hanya milik Allah dan kadang-kadang juga milik operator Zoom ketika sinyalnya bagus. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Departemen Kemitraan Strategis
Rafik Akbar: “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Mas Vidi, Mas Priana, Mbak Wita. Selanjutnya ke Departemen Kemitraan Strategis yang diketuai oleh Mas Fajar dipersilakan 15 menit untuk menyampaikan secara umum program kerjanya.”
Fajar Andrianto: “Baik, 15 menit ya Mas ya. Umum saja. Baik, nanti untuk tambahan bisa disampaikan oleh Bapak Heri Setiatna.
Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wasahbihi wamawwalah. Teman-teman semuanya, seluruh pengurus dan juga Dewan Kehormatan dan Pengawas yang saya hormati, dan tentunya teman-teman yang hadir di kesempatan pada pagi menjelang siang hari ini.
Di sini saya selaku Ketua Departemen Kemitraan Strategis akan menyampaikan program selama 4 tahun dan kita bagi menjadi tiga poin besar. Yang pertama adalah program jangka pendek, yang kedua program jangka menengah, dan yang ketiga adalah program jangka panjang.
Program Jangka Pendek (1 Tahun): Kita ada dua program kegiatan. Yang pertama adalah pemetaan ataupun pendataan mengenai lembaga atau instansi yang akan kita ajak untuk bermitra. Seperti halnya misalnya Kemendikbud, atau dari dinas masing-masing di bawah Kemendikbud. Kemudian dengan Kementerian Agama, baik nanti dari masing-masing Kanwil yang ada inklusinya, ada teman-teman disabilitasnya. Kemudian seperti halnya Kemenpan RB terkait dengan pendataan. Kemudian perusahaan, perguruan tinggi, SLB, walaupun lembaga Sekolah Luar Biasa ini terbatas ya menurut AD/ART, tetap kita cantumkan. Dan tentunya mitra-mitra yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena kita memiliki beberapa list lembaga yang bisa kita ajak kerja sama.
Kemudian yang kedua, selain pendataan dan juga pemetaan, adalah audiensi. Jadi setelah kita data dan lakukan pemetaan, kita melakukan audiensi dari masing-masing lembaga atau instansi yang sudah kita buat list-nya.
Program Jangka Menengah: Ada beberapa program. Yang pertama adalah terkait dengan kemitraan untuk pengembangan SDM dan juga pendanaan. Jadi mendukung sumber daya manusia dan juga berkenaan dengan pendanaan. Nah programnya adalah mengajak bermitra dengan perusahaan atau mungkin CSR dari masing-masing perusahaan yang memiliki benefit atau pemasukan. Kita akan coba ajak kerja sama guna mengembangkan sumber daya atau potensi dari teman-teman, dan nanti bisa bekerja sama dengan departemen lain seperti halnya advokasi dan juga pengembangan kompetensi.
Selain itu, di program jangka menengah ini kita juga ada kegiatan pengembangan SDM seperti halnya seminar, pelatihan, dan lain-lain.
Program Jangka Panjang: Ini membangun jejaring yang lebih luas dan tentunya target kita adalah membentuk jaringan kemitraan nasional. Jadi membuat forum-forum. Kemudian yang kedua, selain membangun forum jejaring nasional, kita ada temu kemitraan. Jadi minimal selama 4 tahun dalam kepengurusan, kita coba akan adakan temu kemitraan dengan mitra-mitra yang sudah menjalin kerja sama.
Selanjutnya kepada Pak Heri bisa menambahkan nggih. Terima kasih.”
Heri Setiatna: “Terima kasih Mas Fajar. Teman-teman semuanya, para pengurus, Dewan Kehormatan, dan Dewan Pengawas. Saya melanjutkan Mas Fajar, izin untuk menegaskan bahwa rencana kami dalam Departemen Kemitraan Strategis ini terbagi menjadi tiga tadi: jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
Departemen Kemitraan Strategis ini pada dasarnya adalah divisi hubungan luar. Kalau tidak salah mengartikan maksudnya Mas Wido sebagai sekretaris ini ya. Dalam organisasi profesi guru, departemen ini sebagai jembatan emas yang menghubungkan dunia internal guru dengan ekosistem luar yang dinamis. Tugas utama dari Departemen Kemitraan Strategis ini bukan cuma mencari sponsor, tetapi lebih pada membangun hubungan saling menguntungkan (win-win solution) demi meningkatkan kompetensi, kesejahteraan, dan perlindungan para guru anggota IGTI.
Fungsi utama dari Departemen Kemitraan Strategis ini: Yang pertama, mencari peluang yang baru, mencari akses pendanaan, fasilitas, atau teknologi yang tidak dimiliki organisasi secara mandiri. Kemudian yang kedua, penguatan posisi, yaitu memastikan suara guru anggota IGTI didengar oleh pembuat kebijakan dan publik. Kemudian yang ketiga, peningkatan kapasitas, yaitu berkolaborasi dengan pakar atau lembaga eksternal untuk melatih para guru anggota IGTI.
Itu tambahan dari kami ya, catatan yang bisa untuk kita diskusikan bersama. Ini baru usulan sehingga nanti menjadi program dari IGTI ke depan. Demikian, terima kasih, kurang lebihnya minta maaf. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Rafik Akbar: “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Mas Fajar dan Pak Heri dari Departemen Kemitraan Strategis yang sudah menyampaikan rancangan program kerjanya.”
Departemen Pengembangan Kompetensi dan Organisasi
Rafik Akbar: “Untuk itu selanjutnya Departemen Pengembangan Kompetensi dan Organisasi, sudah siap? Sudah ada yang bermonitor ya, Mas Harisandi?”
Harisandi: “Baik, Mas Rafik, izin saya mewakili Departemen Pengembangan Kompetensi dan Organisasi.” (Sdr. Harisandi melakukan persiapan berbagi layar/share screen hingga menit 01:40:44)
“Baik, terima kasih sebelumnya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya dari perwakilan Departemen Pengembangan Kompetensi dan Organisasi IGTI akan memaparkan garis besar atau poin-poin dari program yang sempat tim kami diskusikan. Di sini program kerja disusun sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan departemen.
Dasar penyusunan kita: Yang pertama kebutuhan nyata guru tunanetra, yang kedua penguatan organisasi berkelanjutan, lalu yang ketiga ada pendekatan adaptif dan berbasis praktik.
Izin di sini saya juga menyampaikan visi kita: Mewujudkan penguatan kapasitas guru tunanetra dan tata kelola organisasi yang adaptif, kolaboratif, serta berbasis kebutuhan nyata.
Misi departemen kita ada tiga: (1) Meningkatkan kompetensi guru tunanetra berbasis teknologi dan praktik lapangan. (2) Menguatkan sistem kerja dan kapasitas organisasi. (3) Menghasilkan kontribusi nyata dalam aksesibilitas dan pendidikan inklusif.
Program Kerja Berdasarkan Linimasa (Timeline):
Tahun 2026: Kita berencana untuk melakukan uji coba aksesibilitas sistem ASN disabilitas dari BKN yaitu melalui MyASN. Tujuannya mengidentifikasi hambatan akses pada sistem ASN disabilitas. Kegiatannya: uji screen reader, pencatatan temuan, dan penyusunan laporan. Output-nya adalah laporan dan rekomendasi teknis.
Tahun 2027: Kita merencanakan ada pelatihan digital adaptif. Mengingat guru tunanetra kita sangat terbantu dengan adanya teknologi, dan teknologi setiap saat terus berkembang. Termasuk di era yang sudah sangat AI (Artificial Intelligence) ini. Tujuannya meningkatkan kompetensi digital guru tunanetra. Kegiatannya: pelatihan screen reader, pembuatan dokumen aksesibel, dan pemanfaatan AI. Output-nya berupa modul dan rekaman pelatihan.
Tahun 2028: Program penguatan kapasitas organisasi IGTI. Tujuannya meningkatkan efektivitas tata kelola organisasi. Kegiatannya kita berencana untuk membuat semacam workshop atau webinar internal, diskusi lintas departemen untuk berkolaborasi, dan penyusunan panduan kerja organisasi.
Tahun 2029: Di sini kita akan membuka forum berbagi praktik baik guru tunanetra. Tujuannya menyebarluaskan pengalaman dan praktik baik. Kegiatannya berupa webinar nasional atau diskusi secara daring.
Konsolidasi Akhir: Yang terakhir di sini ada konsolidasi atau advokasi nasional guru tunanetra. Tujuannya mengintegrasikan hasil program sebelumnya. Kegiatannya berupa kompilasi hasil program, forum nasional, dan advokasi kebijakan. Output-nya rekomendasi nasional.
Sekian dari saya yang mewakili. Mungkin ada yang menambahkan dari teman-teman departemen yang hadir? Saya persilakan.”
Rafik Akbar: “Terima kasih Mas Harisandi. Mungkin ada tambahan dari tim departemen pengembangan kompetensi yang lain, Mbak Salma atau Mbak Tri ada tambahan?”
Salma Rahmasari: “Kalau dari saya cukup. Mohon maaf tadi belum bisa on-mic. Cukup dari saya, Mas Harisandi.”
Harisandi: “Baik terima kasih Mbak Salma. Saya mewakili untuk penutupan, harapannya program kerja diharapkan menjadi acuan pelaksanaan kegiatan dan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kompetensi guru tunanetra. Bersama membangun guru tunanetra yang kompeten, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Korwil (Koordinator Wilayah)
Rafik Akbar: “Terima kasih penyampaian program kerja dari Departemen Pengembangan Kompetensi dan Organisasi. Bapak/Ibu sekalian, tadi sudah disampaikan program kerja dari departemen-departemen.
Selanjutnya sebelum kita lanjut ke sesi berikutnya, saya ingin menyampaikan juga mewakili teman-teman Korwil. Jadi kami juga sudah sempat melaksanakan rapat konsolidasi dengan teman-teman Korwil dari Korwil 1 sampai Korwil 6 dan kesepakatannya untuk program Korwil mohon bisa disampaikan oleh ketua saja, katanya seperti itu. Tapi karena memang dari enam Korwil kita memang tupoksinya sama ya, sehingga programnya pun hampir seragam, hampir serupa.
Yang perlu diketahui oleh Dewan Kehormatan dan Dewan Pengawas bahwa Korwil di kepengurusan saat ini akan kita lebih maksimalkan kehadirannya. Sekurang-kurangnya tugas Korwil yaitu ada tiga:
Membangun komunikasi dengan anggota di daerah dengan berbagai strateginya. Membangun komunikasi yang aktif terhadap anggota-anggota di daerah karena memang Korwil menjadi media yang menjembatani antara teman-teman di dewan pengurus (pusat) dengan anggota di daerah.
Mencatat, memoderasi, dan mengikuti isu-isu yang sedang berkembang di daerahnya masing-masing, yang mana ini akan menjadi satu sumber aspirasi yang bisa kita angkat ke permukaan. Tiap daerah punya dinamika dan fenomena yang berbeda-beda. Serta melakukan evaluasi terkait perkembangan daerahnya.
Sehingga di dalam hasil rapat konsolidasi kami menyepakati bahwa langkah awal untuk menghidupkan Korwil yaitu kita mengagendakan FGD (Focus Group Discussion) di daerahnya masing-masing atau berkolaborasi antar daerah. Dan dalam FGD itu kita sangat berharap besar bisa menghadirkan pihak-pihak di luar IGTI, sehingga IGTI di daerahnya juga bisa melakukan pendekatan, membangun kemitraan dengan instansi terkait di daerahnya masing-masing.
Mungkin itu Bapak/Ibu sekalian. Mungkin selanjutnya kami minta tanggapan dari Dewan Pengawas dan Dewan Kehormatan sebelum memberikan penguatan organisasi di sesi berikutnya.”
Tanggapan Dewan Pengawas
Rafik Akbar: “Kepada mungkin Dewan Pengawas terlebih dahulu, dari Bapak Ujang dipersilakan… Pak Ujang masih monitor? Silakan untuk menanggapi secara general saja.”
Ujang Kamaludin: “Terima kasih atas kesempatannya yang diberikan kepada saya. Saya mencatat di sini ada beberapa hal perlu saya respons:
Pertama, dari pemaparan Kesekretariatan dan Kebendaharaan: Saya menghimbau atau menganjurkan kepada bidang kesekretariatan, di momen setelah pelantikan ini supaya bersurat kepada tiga lembaga, yaitu Kemendikbud, Kemenag, dan DPR. Tujuannya adalah pertama taaruf, memperkenalkan organisasi kita kepada tiga lembaga ini. Kemudian yang keduanya bila dimungkinkan, mensosialisasikan program yang kita miliki. Bulan ini kan sudah triwulan 2 ya, Juni terakhir triwulan 2. Triwulan 3 kan mulai Juli itu sudah ada perubahan anggaran. Siapa tahu nanti kalau kita sudah dikenal, kita bisa dimasukkan kepada APBN Perubahan.
Untuk kebendaharaan, sosialisasi keuangan ini juga perlu dicantumkan apakah mau bulanan, triwulan, atau semester. Sebaiknya sosialisasi itu diumumkan di grup dan dicantumkan di web untuk menambah kredibilitas dan trust dari anggota. Saya mencatat juga di rencana dokumen sekilas saya baca ada audit ya. Nah ini perlu disebutkan apakah mau audit internal atau eksternal. Periodisasinya mau kapan, sebaiknya memang jangan terlalu lama, mungkin 1 tahun atau 2 tahun. Paling enggak ada bukti autentik.
Kedua, pemaparan Edukasi dan Inklusif: Program sudah bagus dan sudah mendukung. Tapi saya membaca ada kata “aktor kebijakan”. Nah ini sebaiknya diganti saja supaya tidak bias maknanya, diganti eksekutif, legislatif, dan yudikatif saja, karena trias politika kita kan seperti itu.
Ketiga, pemaparan Departemen Advokasi: Departemen ini perlu mengetahui data guru secara keseluruhan secara nasional itu seberapa. Tujuannya untuk mengkomparasikan dengan anggota IGTI yang sudah masuk menjadi guru. Karena amanat undang-undang itu kan di lembaga pemerintahan 2% harus terisi, kalau di lembaga swasta 1%. Artinya ketika kita memahami jumlah guru secara nasional sekian juta, tinggal dihitung IGTI sudah mencapai 2% atau belum? Itu menjadi bahan advokasi kita. Tadi memprogram pelatihan advokasi secara mandiri, ini penting. Nanti itu bisa bekerja sama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) atau Kementerian Hak Asasi Manusia.
Keempat, Pengembangan Kompetensi dan Organisasi: Secara umum sudah bagus. Saya sarankan bahwa setiap kegiatan yang bersifat meningkatkan kompetensi anggota ini sebaiknya diterbitkan sertifikat, entah ber-Jam Pelajaran (JP) berapa. Karena kita kan dituntut untuk melakukan pengisian e-Kinerja. Ini penting sekali dan sangat bermanfaat.
Kelima, Departemen Kemitraan: Tupoksinya sebagai penghubung, saya sepakat sekali. Kita melakukan audiensi, untuk taaruf itu harus di tahun pertama. Cobalah memanfaatkan waktu liburan sekolah di bulan Juni awal Juli.
Secara umum ini saya menganjurkan juga bahwa raker kita itu perlu dilaksanakan secara luring. Sebetulnya bukan masalah hemat atau boros anggaran, tapi rasanya akan berbeda. Paling tidak setiap tahun itu ada Muker (Musyawarah Kerja) luring yang isinya tiga hal: Evaluasi program yang lalu, sosialisasi program tahun berjalan, dan menyusun program kerja tahun berikutnya. Saya kira itu tanggapan dari pengawas. Mungkin kepada Mas Siswo dan Mas Alam saya persilakan untuk memberikan tambahan. Terima kasih.”
Rafik Akbar: “Terima kasih Pak Ujang. Dari dewan pengawas yang lain, Mas Alam atau Pak Siswo ada tambahan? Mas Alam mangga.”
Alam Rachmanda: “Halo, iya. Kalau dari saya kayaknya cukup deh Mas Rafik, sudah terwakili oleh Pak Ujang semua.”
Rafik Akbar: “Baik, terima kasih Mas Alam. Pak Siswo, apakah ada tambahan atau sudah cukup?”
Siswo Hadi Purnomo: “Sedikit aja boleh. Ya, jadi memang di atas kertas program kerja yang disampaikan oleh masing-masing departemen itu sangat bagus gitu. Hanya saja perlu dipikirkan juga implementasinya, visibilitasnya, atau kemungkinan terlaksananya itu berapa persen gitu. Jadi jangan sampai kita membuat program kerja itu setinggi langit, tetapi untuk implementasi di lapangan itu sangat minim. Perlu dipikirkan kemungkinan terlaksana itu kalau bisa di atas 80% gitu. Itu aja Mas Rafik, terima kasih.”
Ujang Kamaludin: “Iya, jadi intinya gitu Mas Rafik. Program yang disusun ini sebagai motivasi. Kalau ada programnya lima masa cuma terlaksana satu kan begitu ya. Syukur kalau lima semuanya terlaksana kan bagus.”
Rafik Akbar: “Ya. Pak Ujang, Mas Alam, dan Pak Siswo, terima kasih atas tanggapan-tanggapannya, atas arahannya, sarannya yang sangat konstruktif dan mudah-mudahan ini bisa menjadi salah satu acuan kami untuk bisa mengimplementasikan.”
Tanggapan Dewan Kehormatan
Rafik Akbar: “Selanjutnya kepada Dewan Kehormatan, Ketua Dewan Kehormatan Mas Sugi dipersilakan untuk menanggapi secara umum apa yang sudah disampaikan oleh dewan pengurus. Mas Sugi monitor?”
(Terdengar sahutan Sugi: Iya, monitor)
Rafik Akbar: “Silakan Mas.”
Sugie Hermanto: “Oke, terima kasih Mas Rafik dan teman-teman. Pertama, saya apresiasi upaya teman-teman membuat program kerja disertai dengan analisis. Ini jadi bisa jadi bahan pertimbangan juga bagi memudahkan Dewan Pengawas saat nanti mengevaluasi kinerja ya, karena di situ ada analisis SWOT-nya. Terus saya ada beberapa catatan:
Pertama, mengenai pengelolaan database: Saya lihat itu ada tiga divisi yang intinya pendataan. Yang pertama adalah Sekretaris (penyusunan database anggota dan mitra). Sementara di Advokasi juga memiliki sensus digital, dan di Departemen Kemitraan itu juga ada database mitra. Catatan saya adalah tolong nanti mekanisme pengelolaan datanya itu disatukan. Jangan sampai kita meniru negara ini, Kementerian Pendidikan punya data sendiri, Kementerian Sosial punya data sendiri, Kemen PPPA punya data sendiri. Harapan saya IGTI jangan seperti pemerintah. Paling tidak, ketiga divisi ini ketika punya data, jadikan itu sebagai satu database utama IGTI. Sehingga siapapun ditanya tentang data, mereka bisa menjelaskan secara presisi, bukan sekadar estimasi.
Kedua, mengenai komunikasi kementerian: Saya sepakat dengan yang disampaikan Pak Ujang. Mudah-mudahan setelah SK Kemenkumham turun, teman-teman bisa bersurat bahwa ada kepengurusan baru, ada penerbitan SK Kemenkumham baru, sehingga kita tetap menjaga komunikasi dengan mitra seperti KND (Komisi Nasional Disabilitas), Kemendikdasmen, Kementerian Agama, dan lain sebagainya.
Ketiga, mengenai uji aksesibilitas: Saya sepakat ada uji aksesibilitas di tahun 2026 ini. Harapannya adalah teman-teman segera menyusun instrumennya apa yang diuji, dan akan lebih baik ketika teman-teman membagikan instrumen itu kepada guru-guru disabilitas di luar IGTI. Jadi tidak tim sendiri yang melakukan uji, tetapi instrumen disebarkan ke grup-grup. Sehingga secara keragaman instansi dan perangkat yang digunakan hasilnya akan lebih kuat. Ini langkah strategis karena MyASN itu adalah rohnya PNS untuk urusan kinerja, karier, maupun kelengkapan data digital (DTBS). Kalau persentase kita rendah, berarti banyak data yang belum diisi. Harapannya ini tidak hanya sekadar data, tapi jadi informasi bagi BKN/Kementerian bahwa ada IGTI yang concern terhadap masalah di situ.
Keempat, mengenai alokasi dana darurat: Ini catatan di luar program kerja. Kalau bisa, bendahara itu punya estimasi dana darurat. Harus ada mekanisme persentase berapa dana darurat yang tidak bisa diotak-atik setiap tahunnya atau setiap periodenya. Ini adalah langkah darurat ketika suatu saat organisasi sangat membutuhkan anggaran. Sepertinya kita belum menerapkan mekanisme itu.
Kelima, mengenai penerbitan buku: Ada Departemen Edukasi dan Inklusif yang akan menerbitkan buku (white paper). Kalau memang ingin menerbitkan buku, paling tidak di tahun kedua sudah mulai menyusun rengrengan (draf/kerangka). Karena dengan kesibukan teman-teman yang tugas utamanya sebagai guru, saya khawatir kalau baru dikerjakan di tahun keempat atau kelima tidak akan tercapai. Ngomong buku itu tidak hanya soal tulisan, tapi juga mengatur layout dan sebagainya. Meskipun tidak dicetak (format PDF), kita harus mengakomodir orang-orang visual. Secara estetik visual itu harus diperhatikan.
Saya kira itu dulu teman-teman. Terima kasih kesempatannya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Rafik Akbar: “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dari Sekretaris Kehormatan Mbak Presti ada tambahan mungkin?”
(Terdengar respons bahwa Mbak Presti tidak ada tambahan/cukup)
Rafik Akbar: “Oh gitu, oke. Terima kasih Mbak Presti. Mas Sugi atas tanggapannya, saran-saran masukannya, mudah-mudahan apa yang disampaikan ini sudah kami catat dan menjadikan acuan untuk berkoordinasi ke depannya. Mudah-mudahan bisa kami implementasikan, seperti yang disampaikan tadi sama Pak Siswo mudah-mudahan di atas 80% program kita bisa terlaksana dengan baik.”
Penguatan Organisasi (Dewan Pengawas)
MC (Presti): “Baik, terima kasih Mas Rafik yang telah memimpin kegiatan pemaparan program kerja dan kemudian sekaligus juga mendengarkan tanggapan-tanggapan dari Dewan Pengawas dan Dewan Kehormatan. Untuk acara selanjutnya yaitu Penguatan Organisasi yang akan disampaikan oleh Ketua Dewan Pengawas dan juga Ketua Dewan Kehormatan. Untuk itu, mungkin dari Dewan Pengawas dulu dipersilakan.”
Ujang Kamaludin: “Cek suara, bagus?”
(Terdengar respons dari peserta: Pak Ujang termonitor. Iya, bagus ya).
Ujang Kamaludin: “Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… Yang terhormat Ketua Dewan Pengurus dan jajarannya, juga jajaran Pengawas, dan juga Ketua Dewan Kehormatan beserta jajarannya. Alhamdulillah di sesi yang ketiga ini, ini sisa-sisa waktu ya, dan semoga kita tetap semangat. Tentu saya menyampaikan mohon maaf karena memang jujur saya untuk sesi yang ini tidak persiapan begitu ya, karena saya juga lupa terhadap sesi ini.
Tapi paling tidak saya ingin mengatakan bahwa IGTI ini adalah sebuah organisasi. Organisasi itu kan berarti berasal dari kata organ. Yang kemudian antar organ itu bekerja sama. Organ itu ya ada kaki, tangan, mulut, hidung, ginjal, perut, hati, dan selanjutnya, yang itu kemudian saling berhubungan, saling berkomunikasi, saling bekerja sama untuk menggolkan apa yang menjadi instruksi oleh pimpinan. Nah pimpinan ini kan ibarat otaknya, seperti itu ya.
Kemudian yang lainnya adalah sebagai penggerak organ. Itu berarti kan bagaimana menguatkan peran dan fungsi masing-masing itu sesuai dengan tupoksinya (tugas dan fungsinya), sehingga nanti semuanya itu akan bermuara kepada tujuan bersama. Itu yang pertama.
Oleh karena itu, mari kita bekerja sama di dalam IGTI ini tanpa harus berpegang teguh secara mutlak kepada ‘aku kan cuman tugas ini’, ‘aku kan cuman tugas itu’ dan seterusnya. Kita itu sebetulnya sama. Karena suatu badan saja kalau satu organ itu misalnya tidak berfungsi, misalnya tidak ada jempol. Berapa besarnya jempol bagi tubuh kita? Seberapa? Kan begitu. Mungkin seperseratus atau mungkin seperseribu bagian.
Tapi kalau jempol enggak ada, apa yang bisa diperbuat oleh tangan? Apa yang bisa diperbuat oleh mulut? Ujung-ujungnya kita tetap butuh ketergantungan kepada organ lain. Mungkin mulutnya bisa memerintah dengan baik, tapi karena jempol itu tidak ada, kemudian kerja kita itu menjadi terhambat. Nah, menjadi disabilitas seperti itu.
Nah oleh karena itu, kita enggak usah berpikir posisi kita besar-kecilnya di organisasi, tapi peran kita seperti apa. Peran kita sebagai individu, sebagai bidang yang kita geluti, dan juga bagaimana kontribusinya terhadap departemen, terhadap peran-peran yang lain. Nah ketika kaki kita kesandung, kan kita juga butuh bantuan tangan untuk mengobati, butuh mata untuk melihat supaya tidak salah tetes obatnya ya, butuh mulut untuk minta tolong kepada yang lain dan seterusnya untuk berkomunikasi. Kadang-kadang hati, perut, semua ikut merasakan sakit. Padahal yang kesandung cuman kelingking.
Nah di sinilah maka Nabi mengajarkan kepada kita bahwa ‘Al-mukminu lil-mukmini kal-bunyani… kal-jasadil wahid’ (Orang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu tubuh). Nah kalau mukmin itu kita ibaratkan sebagai sebuah organisasi, maka organisasi ini seperti tubuh yang satu. Di mana tubuh yang satu itu pasti ada saling keterkaitan, saling membutuhkan. Tidak mungkin telinga bisa bekerja sendiri, tidak mungkin hidung bisa bekerja sendiri. Tetap kita butuh bantuan, butuh kolaborasi dengan pihak-pihak lain.
Oleh karena itu, pentingnya berorganisasi itu di sini adalah untuk saling melengkapi kekurangan, untuk saling memberikan kelebihan, untuk saling menguatkan bagi yang lemah, dan saling membantu untuk mewujudkan apa yang menjadi mimpi bersama. Itulah makanya organisasi tidak mungkin hanya dipikir oleh ketuanya saja. Mesti butuh kontribusi dari pihak-pihak lain, dari departemen-departemen. Secara internal maupun eksternal, kita tidak bisa mengabaikan kerja sama antar diri kita, antar organ kita dengan pihak lain.
Kalau kita ibaratkan juga misalnya peran sapu lidi. Peran sapu lidi ini sangat penting sekali. Ketika sapu lidi hanya satu, dipakai menyapu mungkin 1 meter persegi saja butuh waktu yang lama sekali, sulit itu. Tapi dengan adanya lidi itu diikat menjadi seratus buah atau seribu buah menjadi satu ikatan, satu organisasi, dipakai menyapu halaman seluas apapun tetap bisa bersih. Begitulah pentingnya kita berorganisasi.
Saya kira itu yang terpenting. Dan yang terakhir ingin saya sampaikan bahwa kita jangan lupakan sejarah kita. Kita bisa seperti ini, ini karena perbuatan orang-orang dahulu, karena ada yang mengawali. Tapi kita juga harus bisa memantapkan eksistensi diri kita saat ini. Karena tidak mungkin kita bergantung terus pada orang yang terdahulu. Orang dulu hidup di masa lalu, orang sekarang hidup di masa sekarang. Yang tahu urusan saat ini adalah kita.
Dan kita juga jangan lupa harus memikirkan generasi yang akan datang. Sebab apa? Citra kita buruk saat ini, itu akan berpengaruh kepada generasi-generasi yang akan datang. Mesti ada klaim negatif terhadap pihak-pihak lain. Demikian pula kalau kita mengukir prestasi dengan sebaik-baiknya saat ini, maka tentu itu juga akan berefek positif terhadap generasi yang akan datang.
Karena saya merasa, saya sendiri juga sudah 24-25 tahun jadi guru dan seterusnya. Saya juga berpikir saya harus berbuat baik. Kenapa? Karena ada generasi-generasi saya yang akan mengikuti. Dan saya juga berterima kasih pada orang-orang yang mendahului saya, yang sejak awal sudah memperjuangkan mengenai undang-undang penyandang cacat (penca), ratifikasi konvensi PBB, sampai terbitnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 (tentang Penyandang Disabilitas). Ini adalah rangkaian perjuangan. Jadi antara orang dahulu dengan orang yang akan datang ini merupakan satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Peran-peran itu harus kita hargai sesuai dengan proporsinya.
Saya kira itu saja penguatan dari saya. Mudah-mudahan ini menjadi semangat bagi kita. Dan jangan lupa bahwa apapun yang kita lakukan niati untuk mencari keridaan Allah Subhanahu wa taala. Sehingga meskipun kita berjuang dalam hal IT, berjuang dalam hal administrasi, berjuang dalam hal advokasi, tetapi tetap ini menjadi bagian dari nilai ibadah bagi kita semua. Demikian, mudah-mudahan ada manfaatnya. Akhirul kalam, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
MC (Presti): “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik, terima kasih Bapak Ujang Kamaluddin yang telah menyampaikan penguatan organisasi pada kesempatan hari ini.”
Penguatan Organisasi (Dewan Kehormatan)
MC (Presti): “Nah, untuk selanjutnya, penguatan organisasi akan disampaikan oleh Ketua Dewan Kehormatan, kepada Mas Sugie Hermanto dipersilakan.”
Sugie Hermanto: “Oke, suara saya jelas?”
(Terdengar respons dari peserta: Jelas Mas… Jelas… Oke)
Sugie Hermanto: “Ya, baik. Terima kasih Pak Ujang dan Mas Rafik ya. Saya kembali hanya sekedar mengingatkan aja bahwa kita ini sebagai pengurus dan anggota IGTI itu punya visi misi. Mungkin saya hanya mengingatkan itu.
Bahwa yang pertama, visinya IGTI itu adalah mewujudkan inklusivitas, pendidikan yang jadi rohnya. Kenapa visi ini terwujud? Karena selama ini banyak guru-guru yang mengalami diskriminasi. Bahkan mungkin banyak guru tunanetra yang mengajar di satuan pendidikan umum itu banyak terdiskriminasi; baik itu yang enggak dikasih jam mengajar, diragukan kompetensinya, diprotes orang tua murid, dan lain sebagainya.
Selama ini, regulasi pemerintah itu hanya mengatur seperti halnya ‘akomodasi yang layak’ yang ditetapkan bagi peserta didik. Pemerintah belum begitu sadar bahwa ada guru-guru juga yang mengalami disabilitas yang tentunya butuh akomodasi yang layak. Pemerintah baru membuat akomodasi untuk peserta didik berkebutuhan khusus, di situ sudah dijelaskan secara detail apa kebutuhannya bagi tunanetra, tunarungu, dan lain-lain. Tapi ketika ngomong guru, kita mungkin enggak menemukan itu. Dan itu mungkin bisa jadi bahan advokasi dan renungan buat kita semua ke depan.
Karena ya kita ketahui, semua orang itu berpotensi jadi disabilitas. Orang yang pakai kacamata itu juga secara lambat laun dia akan jadi disabilitas. Sekarang banyak radiasi HP, komputer, radiasi TWS/Earphone Bluetooth yang enggak bisa dihindarkan. Artinya apa? Penyandang disabilitas itu berpotensi bertambah, termasuk juga guru disabilitas. Sehingga visi yang ditetapkan oleh para pendiri adalah bagaimana mewujudkan inklusivitas itu. Ini bukan tujuan yang bisa dicapai dalam satu atau dua tahun, tapi tujuan yang harus kita berproses untuk mencapainya.
Maka langkah-langkahnya adalah: Pertama, membangun kesadaran akan pentingnya inklusivitas di sekolah umum. Kalau kita ngomong Sekolah Luar Biasa (SLB) itu secara manajemen sudah terdesain untuk memberikan layanan bagi disabilitas. Secara sistem mereka lebih siap, meskipun secara sistem kepegawaian di MyASN perlakuannya sama. Tapi akan lebih mengenaskan ketika di sekolah umum.
Ketika saya pertama kali mendengarkan podcast-nya Mas Vidi, sampai saat ini saya masih ingat bagaimana beliau bercerita ‘sekolah kambing’ ikut sekolah gitu. Coba bayangkan guru tunanetra harus ngajar di tempat yang seperti itu. Saya saja yang alhamdulillah low vision masih bisa membaca, ketika pertama kali masuk itu mengalami penolakan dari orang tua. Waktu itu saya jadi shadow teacher, dan anak autis yang saya tangani meminta saya membacakan tulisan di papan tulis. Kebetulan ada orang tua murid yang melihat dari jendela lalu protes, “Pak, ngono kok gak iso, ngono kok sampean kerja nang kene?” (Pak, begitu saja kok tidak bisa, begitu kok Anda kerja di sini?).
Nah itu pentingnya inklusivitas. Kita mulai bangun dari lingkungan kecil kita, tempat kita bekerja. Kita edukasi teman-teman agar mereka aware dan mengerti potensi kita. Nanti perlahan radiusnya akan membesar ke tingkat kecamatan, dinas, hingga Kanwil.
Kedua, IGTI harus berperan sebagai forum advokasi dan komunikasi bagi guru tunanetra di sekolah umum. Kalau di sekolah khusus itu sudah ada bidangnya, di Kementerian Pendidikan sudah ada bidang PKLK (Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus). Tapi guru tunanetra di sekolah umum itu belum ada yang membidangi secara khusus.
Saya ingat mendampingi kasus Pak Sis yang dulu sertifikasinya sempat tidak keluar, sempat dinyatakan ‘tidak berkompeten’ dalam tanda kutip. Kenapa? Karena orientasinya mindset beberapa pejabat saat itu adalah: kalau disabilitas ya kamarnya di SLB. Maka IGTI harus berperan sentral di sini, karena kita tidak punya KKG (Kelompok Kerja Guru) khusus disabilitas.
Ketiga, meningkatkan kompetensi guru tunanetra di satuan pendidikan umum. Ini penting, karena banyak kasus guru yang mengalami ketunanetraan di sekolah umum itu kebingungan harus menuju ke mana. Saya menjumpai juga kasus seperti itu. Untungnya sekarang ada medsos yang menjadi pintu masuk bagi mereka untuk mengakses informasi.
IGTI punya peran vital untuk jadi mitra kementerian dalam melatih guru-guru tersebut. Kalau di SLB pelatihan kompensatoris (seperti Braille dan Orientasi Mobilitas) sudah banyak. Guru tunanetra di sekolah umum paling tidak harus tahu juga kompensatoris untuk disabilitas lain. Karena saya yakin ketika ada siswa disabilitas di sekolah Bapak/Ibu, Anda akan dijadikan pusat sumber. Ketika di sekolah inklusi ada anak tunarungu, guru tunanetra akan ditanya program kompensatoris apa yang harus diberikan. Paling tidak kita harus tahu sedikit tentang bahasa isyarat, bina bicara, dan lain-lain.
Keempat, mensosialisasikan profesionalisme guru. Selama ini banyak yang tidak tahu kalau guru tunanetra itu bisa ngajar di sekolah umum dan berprestasi, bahkan menulis buku seperti karya anggota IGTI yang disampaikan Mas Vidi kemarin.
Kelima, mensosialisasikan pendidikan inklusif secara berkesinambungan. Tujuannya kembali ke nomor satu, untuk membangun kesadaran di dunia pendidikan.
Keenam, menjalin kemitraan dengan berbagai pihak agar IGTI bisa jadi pusat sumber informasi bagi instansi terkait tentang bagaimana memberikan akomodasi yang layak bagi guru disabilitas.
Tugas dan Wewenang Dewan Pengurus:
Berikutnya saya akan mengingatkan mengenai tugas dan wewenang Dewan Pengurus yang ada di Pasal 22 Anggaran Dasar:
- Dewan Pengurus bertanggung jawab penuh atas kepengurusan IGTI selama satu periode berdasarkan AD/ART.
- Bertugas melaksanakan program kerja yang telah disusun.
- Berkewajiban untuk menetapkan kebijakan IGTI, baik internal maupun eksternal.
- Wajib dengan iktikad baik dan penuh tanggung jawab melaksanakan tugas dengan memperhatikan AD/ART.
- Dewan Pengurus berhak mewakili IGTI di dalam dan di luar pengadilan. Termasuk mewakili organisasi dalam hal meminjamkan uang, berhutang atas nama perkumpulan, atau menginvestasikan kekayaan organisasi (tentunya dengan sepengetahuan dan pertimbangan Dewan Pengawas/Legislatif).
- Berhak mengadakan perjanjian (MOU) dengan organisasi lain. Jadi kalau ada MOU, yang tanda tangan adalah Dewan Pengurus (Ketua), bukan Dewan Kehormatan atau Dewan Pengawas.
- Berhak mengadakan pengadaan barang bergerak milik organisasi (misal: membeli mobil dinas, inventaris, dll).
- Berkewajiban melaporkan pertanggungjawaban pada akhir masa kepengurusan dalam Musyawarah Perwakilan.
Terakhir, pesan saya adalah tolong file AD/ART IGTI dan Akta Pendirian itu diketik ulang agar aksesibel dan bisa dibaca oleh screen reader (pembaca layar) bagi anggota tunanetra (blind), karena selama ini formatnya tidak aksesibel.
Saya kira itu saja dulu. Nanti hal detail kita diskusikan di forum lain. Saya kembalikan ke moderator. Silakan.”
MC (Presti): “Baik. Terima kasih Mas Sugie dan Pak Ujang yang telah menyampaikan penguatan organisasinya. Ini mau ditanggapi atau sudah cukup teman-teman?”
(Terdengar respons dari pengurus: Cukup… Itu hanya penguatan aja).
MC (Presti): “Oke baik.”
Foto Bersama
MC (Presti): “Baik. Untuk sesi selanjutnya, acara selanjutnya yaitu foto bersama. Diminta untuk dibuka kameranya teman-teman. Silakan kameranya dibuka semua ya. Mas Fadli standby Mas Fadli?”
Fadli Ismail: “Iya, standby Mas. Siap-siap.”
Peserta lain: “Mantap, thank you Mas Fadli.”
Fadli Ismail: “Ada yang belum buka videonya. Wah ayo teman-teman diaktifkan sementara kameranya untuk kita sebentar.”
(Terdengar berbagai candaan dan sapaan antar peserta saat bersiap menyalakan kamera layar)
Peserta: “Lupa tadi enggak dibuka kameranya dari tadi, enggak apa-apa.”
Peserta: “Siap. Yang penting pas wajah saya sudah kelihatan ini.”
Peserta: “Wah ganteng Mas Wido wajahnya, ini saya masih pakai koko loh ini. Wis nanti biar tampil wajah.”
Wido / Peserta lain: “Siapa ini yang bisa melihat wajah saya ini?”
Fadli Ismail: “Mas Rafik itu belum aktif Mas Rafik kameranya.”
Rafik Akbar: “Ih masa sih? Ini udah kan, kalau belum masih foto sampul.”
Fadli Ismail: “Coba sekarang sudah belum? Kayaknya settingan sudah stop tuh di sini belum.”
(Terjadi sedikit penyesuaian posisi duduk dan kamera)
Fadli Ismail: “Mas Yudi agak mundur Mas Yudi, kepalanya enggak kelihatan Mas. Kok masih… agak mundur sedikit, kurang mundur. Nah sudah, sudah. Jangan jauh-jauh, nanti jangan jauh-jauh kita ke Monas aja lagi.”
Rafik Akbar: “Mas Sugi ya maaf nonaktif itu.”
Fadli Ismail: “Coba, coba… Nah itu aktif ya, oke siap teman-teman. Oke Mbak Presti itu Mbak Presti belum aktif Mbak Presti. Mbak Presti MC yang paling cantik tuh ayo.”
MC (Presti): “Aku enggak mau… Enggak, enggak jadi, enggak enggak jadi tak buka aja lah… Oh suaminya enggak boleh, oke enggak apa-apa.”
Fadli Ismail: “Siap ya teman-teman ya? Oke… mundur dari seratus… eh kelamaan.”
(Terdengar tawa peserta)
Fadli Ismail: “Satu… dua… tiga. Oke. Sekali lagi ya, tuh belum selesai. Satu… dua… senyum… Oke terima kasih teman-teman.”
Peserta: “Terima kasih Mas Fadli…”
Fadli Ismail: “Oke lanjut MC.”
Doa & Penutup
MC (Presti): “Oke. Baik, terima kasih untuk foto bersamanya dan terima kasih juga atas senyumnya. Untuk selanjutnya, acara selanjutnya yaitu doa. Kepada Bapak Siswo dipersilakan.”
Siswo Hadi Purnomo: “Jelas? Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
(Peserta menyahut: Waalaikumsalam).
Siswo Hadi Purnomo: “Hari ini kita semua bersama-sama sudah bisa merasakan pelantikan untuk periode kepengurusan sampai dengan 2030, dan dilanjutkan dengan rapat kerja penyusunan program kerja selama 4 tahun ke depan.
Mudah-mudahan apa yang kita niatkan pada hari ini dan kita laksanakan ke depan senantiasa mendapatkan rida dari Allah Subhanahu wa taala (Amin), dan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi khususnya IGTI dan anggotanya, dan umumnya bagi seluruh warga bangsa yang mengalami diskriminasi karena kedisabilitasannya.
Baik, untuk yang beragama Islam mengamini doa saya, dan yang selain beragama Islam silakan berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing.
A’udzubillahi minasyaitanirrajim, bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’inu ‘ala umuuriddunya waddiin. Washolatu wassalamu ‘ala asrofil anbiya wal mursalin, nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in… Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mukminina wal mukminat… (Membaca rangkaian doa keselamatan, kemudahan, dan keberkahan dalam bahasa Arab)… Rabbana taqabbal minna… Innaka antas sami’ul ‘alim… (Penutup doa).
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
(Hadirin serentak menjawab salam)
MC (Presti): “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Diucapkan terima kasih kepada Pak Siswo yang telah memimpin doa pada kesempatan siang hari ini. Dan alhamdulillah, acara demi acara telah kita lalui bersama, dan tibalah kita di penghujung acara yaitu penutup.
Namun sebelum saya tutup, saya selaku pembawa acara pada kesempatan pagi tadi hingga siang hari ini mohon maaf atas segala kekurangan. Dan sebelum kita tutup, marilah acara ini kita tutup bersama dengan membaca kalimat hamdalah.”
(Hadirin serentak mengucapkan: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin).
MC (Presti): “Dan saya cukup sekian. Billahitaufiq walhidayah, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
(Peserta serentak menjawab salam sebagai tanda berakhirnya acara).